Dalam melaksanakan proses belajar mengajar guru harus memiliki gagasan kreatif yang dituangkan dalam desain pembelajaran. Gagasan yang dituangkan oleh guru, tentunya harus sesuai dengan komponen-komponen lain yang terlibat dalam pembelajaran. Dengan kesesuaian tersebut diharapkan pembelajaran dapat berjalan secara efektif. Dalam hal ini, media merupakan salah satu komponen yang mempunyai peran dan fungsi yang cukup penting. Adapun salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.
Hamalik ( 1986 ) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, serta memadatkan informasi. Sejalan dengan uraian ini Yunus ( 1942:78 ) dalam bukunya Attar-biyatu watta’liim mengungkapkan :
انها أعظم تاثيرافي الحواس ولضمن للفهم فماراء كمن سمع
Maksudnya : bahwasanya media pembelajaran paling besar pengaruhnya bagi indera dan lebih dapat menjamin pemahaman orang yang mendengarkan saja tidaklah sama tingkat pemahamannya dan lamanya bertahan apa yang dipahaminya dibandingkan dengan mereka yang melihat, atau melihat dan mendengarnya.
Dari uraian Yunus di atas jelas bahwasanya media merupakan hal yang sangat penting dalam suatu proses belajar mengajar. Karena hanya dengan mendengar saja belumlah cukup bagi seorang siswa memahami suatu pelajaran yang disampaikan oleh guru maka dibutuhkan adanya media yang dapat menunjang pemahaman siswa terhadap mata pelajaran tersebut. Dan disini bukulah yang merupakan salah satu media belajar yang utama. Karena tanpa buku manusia tidak akan pernah tahu tentang ilmu pengetahuan. Seperti pepatah mengatakan “ buku adalah jendela ilmu “.
Namun timbul suatu pertanyaan mengapa ketika diadakannya evaluasi beberapa media pembelajaran termasuk buku harus ditinggalkan oleh siswa dan tidak diperkenankan untuk membawa dan membacanya dalam ruangan ujian?
Dari permasalahan diatas maka Prof.DR.H.Buchari dalam artikelnya mengemukakan bahwasanya hakekat dari ujian yang diadakan di berbagai lembaga pendidikan adalah untuk membentuk kerakter manusia yang jujur dan gemar membaca. Dalam hal ini siswa yang mengikuti ujian hendaknya mempersiapkan dirinya dengan sebaik mungkin yaitu memperbanyak belajar dan berdoa. Dan adanya ujian maka seorang guru dapat mengetahui kemampuan siswanya dalam menerima dan memahami pelajaran yang diajarkannya serta dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dan untuk mengetahui kempampuan siswanya dalam memahami pelajaran yang telah disampaikan dan berapa ilmu yang telah diserap olehnya, maka dibutuhkannya suatu kejujuran agar hasil yang diperoleh oleh siswa merupakan hasil yang murni dari kerjaanya, sehingga guru dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan pemahaman siswa terhadap pelajarannya.
Senin, 07 Desember 2009
Langganan:
Komentar (Atom)